Apries: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi ''''Apries''' (juga dikenal sebagai '''Wahibre Haaibre''') adalah Fir'aun keempat dari Dinasti Kedua Puluh Enam yang memerintah pada masa Periode Akhir (sekitar tahun 589–570 SM). Masa pemerintahannya dipenuhi oleh gejolak politik akibat ketergantungan istana terhadap tentara bayaran asing yang memicu ketegangan dengan militer asli Mesir. Krisis tentara bayaran, kegagalan militer Libya, dan perang saudara meliputi: * '''Ketegangan Militer Internal:''' Kebij...' Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
Mippedia Neural Engine V12: NeuralRelated Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
[[Kategori:Sejarah Mesir kuno]] | [[Kategori:Sejarah Mesir kuno]] | ||
[[Kategori:Penguasa abad ke-6 SM]] | [[Kategori:Penguasa abad ke-6 SM]] | ||
{{#related: Fir'aun}} | |||
Revisi terkini sejak 25 Mei 2026 21.28
Apries (juga dikenal sebagai Wahibre Haaibre) adalah Fir'aun keempat dari Dinasti Kedua Puluh Enam yang memerintah pada masa Periode Akhir (sekitar tahun 589–570 SM). Masa pemerintahannya dipenuhi oleh gejolak politik akibat ketergantungan istana terhadap tentara bayaran asing yang memicu ketegangan dengan militer asli Mesir.
Krisis tentara bayaran, kegagalan militer Libya, dan perang saudara meliputi:
- Ketegangan Militer Internal: Kebijakan Apries yang sangat mengandalkan unit tentara bayaran Yunani menimbulkan kecemburuan sosial dan politik di kalangan perwira militer pribumi Mesir. Ketegangan ini mencapai titik didih saat unit tentara Mesir dikirim untuk membantu kota Kirene (Libya) namun mengalami kekalahan telak di medan perang.
- Pemberontakan Militer dan Perang Saudara: Kekalahan di Libya memicu pemberontakan besar-besaran tentara Mesir di bawah pimpinan Jenderal Amasis. Apries terpaksa melarikan diri ke pengasingan dan akhirnya terbunuh dalam konflik perebutan takhta yang membelah legitimasi hukum Fir'aun di delta Nil.
- Diplomasi Levant yang Gagal: Selama masa pemerintahannya, ia berusaha mendukung kerajaan-kerajaan kecil di Levant (termasuk Yehuda) melawan ekspansi Babilonia, namun intervensi militernya tidak cukup kuat untuk membendung ambisi Nebukadnezar II.
Masa kekuasaan Apries menjadi pengingat bagi ilmu sejarah tentang bagaimana ketidakseimbangan aliansi militer dan sosial dapat meruntuhkan stabilitas sebuah monarki.