Akhenaten: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi ''''Akhenaten''' (awalnya memerintah sebagai '''Amenhotep IV''') adalah Fir'aun kesepuluh dari Dinasti Kedelapan Belas yang memerintah pada masa Kerajaan Baru (sekitar tahun 1353–1336 SM). Ia diakui secara universal dalam sejarah dunia sebagai salah satu figur paling kontroversial karena meluncurkan revolusi agama radikal yang menghapus kultus politeisme tradisional Mesir dan memaksakan sistem monoteisme berpusat pada penyembahan Dewa Aten. Revolusi...' Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
Mippedia Neural Engine V12: NeuralRelated Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
[[Kategori:Sejarah Mesir kuno]] | [[Kategori:Sejarah Mesir kuno]] | ||
[[Kategori:Penguasa abad ke-14 SM]] | [[Kategori:Penguasa abad ke-14 SM]] | ||
{{#related: Bumi}} | |||
{{#related: Dunia}} | |||
{{#related: Fir'aun}} | |||
Revisi terkini sejak 25 Mei 2026 20.43
Akhenaten (awalnya memerintah sebagai Amenhotep IV) adalah Fir'aun kesepuluh dari Dinasti Kedelapan Belas yang memerintah pada masa Kerajaan Baru (sekitar tahun 1353–1336 SM). Ia diakui secara universal dalam sejarah dunia sebagai salah satu figur paling kontroversial karena meluncurkan revolusi agama radikal yang menghapus kultus politeisme tradisional Mesir dan memaksakan sistem monoteisme berpusat pada penyembahan Dewa Aten.
Revolusi monoteisme Aten, pembangunan ibu kota Amarna, dan keruntuhan geopolitik meliputi:
- Revolusi Agama Monoteisme Radikal: Pada tahun kelima pemerintahannya, ia mengubah namanya dari Amenhotep ("Amun Puas") menjadi Akhenaten ("Demi Kejayaan Aten"). Ia menutup kuil-kuil kuno, menghapus nama dewa-dewa lain dari seluruh monumen di Bumi Mesir, menyita kekayaan finansial para pendeta Amun, dan memproklamirkan Aten (piringan matahari) sebagai satu-satunya Tuhan yang sah bagi manusia.
- Pembangunan Ibu Kota Baru Akhetaten (Amarna): Demi memutuskan hubungan dengan elite politik lama di Thebes, ia memindahkan seluruh aparatur birokrasi, juru tulis, dan militer ke kota baru yang dibangun instan di tengah gurun bernama Akhetaten (sekarang Tell el-Amarna). Di sini, seni rupa mengalami pergeseran mekanis dramatis (Gaya Amarna) yang menggambarkan anatomi biologi tubuh manusia secara distorsi dan naturalistik, berbeda dengan gaya kaku tradisional.
- Kelalaian Geopolitik & Kehilangan Levant: Akibat obsesi ekstremnya pada reformasi keagamaan internal, Akhenaten mengabaikan laporan-laporan intelijen militer yang terekam dalam Surat Amarna. Ia menolak mengirim bantuan militer kepada sekutu Mesir di Asia Barat, mengakibatkan wilayah Levant jatuh ke tangan ekspansi Kekaisaran Het dan suku pemberontak, memicu krisis ekonomi dan politik internal yang hebat.
Dipandang sebagai "Firaun Heretik/Sesat" oleh generasi setelahnya, eksperimen teokrasi radikal Akhenaten mengguncang fondasi sosial-politik Mesir hingga ke titik nadir kemunduran.