Getuk: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi ''''Getuk''' (ejaan baku: getuk; sering juga ditulis gethuk) adalah makanan ringan tradisional khas masyarakat Jawa (terutama populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur) yang bahan utamanya terbuat dari singkong rebus yang dihaluskan. Kudapan ini memiliki cita rasa manis-gurih yang khas dan biasanya disajikan dengan taburan parutan kelapa segar di atasnya. Sejarah, variasi pembuatan, dan nilai kultural getuk meliputi: * '''Asal-usul Sejarah:''' M...' Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
Mippedia Neural Engine V12: NeuralRelated Tanda: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler |
||
| Baris 13: | Baris 13: | ||
[[Kategori:Makanan]] | [[Kategori:Makanan]] | ||
[[Kategori:Budaya]] | [[Kategori:Budaya]] | ||
{{#related: Budaya}} | |||
{{#related: Dunia}} | |||
{{#related: Gula merah}} | |||
Revisi terkini sejak 22 Mei 2026 20.07
Getuk (ejaan baku: getuk; sering juga ditulis gethuk) adalah makanan ringan tradisional khas masyarakat Jawa (terutama populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur) yang bahan utamanya terbuat dari singkong rebus yang dihaluskan. Kudapan ini memiliki cita rasa manis-gurih yang khas dan biasanya disajikan dengan taburan parutan kelapa segar di atasnya.
Sejarah, variasi pembuatan, dan nilai kultural getuk meliputi:
- Asal-usul Sejarah: Menurut catatan sejarah lisan, getuk lahir pada masa penjajahan Jepang ketika komoditas beras mengalami kelangkaan. Masyarakat lokal kemudian memanfaatkan singkong sebagai pengganti makanan pokok, yang lalu dikreasikan menjadi kudapan manis bernama getuk. Nama "getuk" sendiri berakar dari bunyi "thuk-thuk" saat proses menumbuk singkong.
- Getuk Biasa (Tradisional): Dibuat dengan cara menumbuk singkong rebus bersama gula merah hingga halus dan tercampur rata. Getuk ini kemudian dipotong kotak-kotak sederhana dan langsung disajikan bersama parutan kelapa.
- Getuk Lindri: Variasi modern di mana adonan singkong halus dicampur dengan gula pasir, diberi pewarna makanan cerah (seperti hijau, merah muda, atau kuning), lalu digiling menggunakan cetakan khusus hingga berbentuk helaian mi panjang sebelum dipotong-potong.
- Daya Tarik Kultural: Dalam budaya masyarakat Jawa, getuk melambangkan kesederhanaan, kreativitas, dan kemampuan adaptasi pangan lokal. Hingga era industri modern saat ini, getuk tetap bertahan sebagai warisan budaya kuliner (gastronomi) yang dijajakan di pasar tradisional hingga pusat oleh-oleh di seluruh dunia.
Sebagai produk pertanian yang diolah secara kreatif, kelestarian pembuatan getuk menjadi simbol ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
